Bagikan ke :

Manadosiana.net, Minut – Komisioner Bawaslu RI, Fritz Edward Siregar usai meresmikan Media Center Bawaslu Minut  langsung menuju Desa Kaima, Kecamatan Kauditan, Sabtu (22/8/2020).

Kali ini, kehadiran Fritz Edward Siregar guna mendeklarasikan Tawa’ang Wanua Sadar Demokrasi (Kampung Pengawasan) bersama masyarakat Desa Kaima. Kedatangannya bersama jajaran Bawaslu Sulut disambut baik masyarakat Kaima dengan tarian adat. Bahkan Fritz Siregar saat sampai dipakaikan baju adat Minahasa.

Penandatanganan Prasasti Deklarasi Tawa’ang Wanua Sadar Demokrasi yang berisi 7 poin

Dalam deklarasi Tawa’ang Wanua Sadar Demokrasi berisikan 7 points.
1. Menangkal semua isu sara dan hoaks
2. Menolak politik uang
3. Mentaati semua regulasi dalam pilkada
4. Tidak melakukan intimidasi dan rekayasa untuk memilih calon tertentu
5 menghormati dan menghargai setiap pilihan masyarakat
6. Menciptakan suasana aman, tertib, dan damai
7. Menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi di Wanua ini.

Perlu diketahui, Tawa’ang merupakan tanaman dengan akar kuat yang digunakan leluhur Minahasa saat memberi batas tanah. Karena itu tawa’ang dikenal sebagai tanaman yang punya prinsip sehingga memiliki simbol kekuatan dan persatuan. Pun di Desa Kaima sendiri masih kuat dengan adat istiadat sehingga tawa’ang dipakai sebagai simbol Kampung Pengawasan supaya Pilkada 9 Desember 2020 nanti berlangsung bersih dan berkualitas.

Fritz Edward Siregar mengaku kagum buat masyarakat Kaima  yang masih mempertahankan nilai-nilai adat di tanah Minahasa Utara sehingga tidak lupa akan asal-usul. Apalagi mempertahankan budaya, menurutnya membuat Indonesia semakin indah.

“Terimakasih buat masyarakat serta tua-tua adat yang sudah menerima saya. Disini, Kaima merupakan kampung pengawasan pertama di Sulut. Saya terharu, karena deklarasi ini melalui desa Kaima berani menolak politik uang. Untuk itu marilah kita berdemokrasi secara sehat tanpa politik uang. Kampung Demokrasi merupakan Politik stament,” katanya.

Dia berharap, kesuksesan Pilkada 9 Desember bukan hanya tanggung jawab penyelenggara saja. Namun, seluruh elemen termasuk masyarakat. “Untuk itu saya berharap Kampung Demokrasi tidak hanya di Desa Kaima saja tetapi juga ada desa lainnya di Minahasa Utara,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Bawaslu Sulut, Erwin Malonda selaku orang Minahasa merasa terharu dengan sikap masyarakat Kaima yang masih mempertahankan budaya. “Saya apresiasi Bawaslu Minut dan desa Kaima yang sudah menggelar acara ini. Kiranya kita bisa melaksanakan pilkada berkualitas dan bermartabat,” terangnya.

Menanggapi apa yang disampaikan Fritz Siregar, Ketua Bawaslu Minut, Simon Awuy yang didampingi Kordiv Pengawasan Humas dan Hubal, Rahman Ismail mengatakan, Kampung Pengawasan akan dibuat di semua Desa di Minut.

(Anes Tumengkol)