Perjuangan Sujito Talare, Aktivis Penyandang Disabilitas Tunarungu Sulut

Bagikan ke :

Manadosiana.net – Hidup tanpa bisa mendengar bukan menjadi halangan bagi Sujito Talare (47). Meski menyandang disabilitas tunarungu, Sujito merupakan seorang aktivis tuli Sulawesi Utara (Sulut) hingga tingkat nasional.

Lelaki kelahiran Kabupaten Kepulauan Sangihe ini, menceritakan bahwa dirinya mulai terlibat sebagai aktivis tuli sejak 2005 hingga sekarang, dirinya sebagai Penasihat Komunitas Tuli Peduli Bitung (Kaleb), dan juga tergabung dalam organisasi Gerakan Untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia.

Meski tak bisa mendengar, Sujito mampu berbicara dengan lancar. Hal itu disampaikannya bukan karena sekolah khusus tetapi karena pergaulan lingkungan rumah sejak masih kecil, yang hidup di daerah pesisir pantai, sehingga dirinya memiliki kemampuan membaca gerak bibir lawan bicaranya.

“Sejak mulai bersekolah dari SD sampai kuliah, saya sekolah di sekolah umum, bukan di sekolah berkebutuhan khusus,” bebernya.

Sujito mengungkapkan bawah dirinya cukup lama berkuliah, karena kesulitan berkomunikasi.

“Jalan keluar yang saya dapat adalah cari-cari materi pelajaran ke perpustakaan, habis itu baru ikut praktikum, namun saya tetap lambat untuk menerima materi,” katanya.

Selain itu, cara dia untuk belajar ada duduk di bagian paling depan dan memperhatikan gerak bibir dosen yang menjelaskan.

Menurutnya, saat bersekolah SD sampai lulus SMA masih lebih mudah dibanding saat berkuliah.

“Karena guru-guru saya sudah tahu. Namun saat kuliah dosen-dosen juga membantu saya dengan memberikan buku dan makalah untuk saya pelajari,” ungkap jobolan FPIK Unsrat tahun 2006.

Sujito mulai terlibat sebagai aktivis tulis, sejak dirinya mulai menyusun tugas akhis skripsi, saat itu dirinya merasa prihatin melihat keadaan para penyandang disabilitas tunarungu atau tuli, yang selalu mengalami perlakuan diskriminatif ditengah masyarakat.

“Sebagai penyandang disabilitas rungu yang mengalami sendiri diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari sejak kecil hingga saat ini, saya bisa merasakan kehidupan kami yang sering mengalami perundungan (bully) ditengah masyarakat,” ungkapnya.

“Belum lagi stigma kalau tunarungu itu bodoh, suatu kutukan sehingga harus disisihkan dari masyarakat, kasar, liar, tidak sopan dan tidak tahu malu dan berbagai stigma negatif lainnya yang semakin menambah ketersisihan kami oleh masyarakat dalam kehidupan sosial sehari-hari,” sambungnya.

Baginya, dengan terjun sebagai aktivis, Sujito berharap para penyandang disabilitas rungu tidak lagi di anaktirikan, tidak lagi mendapat perlakuan diskriminatif, dan bisa menikmati hak-haknya sebagaimana layaknya seorang warga negara Indonesia.

“Diperlakukan secara sama dan setara dengan yang non tuli, diberi kesempatan dan hak yang sama dalam berbagai lini kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, tidak lagi dilabeli dengan berbagai stigma negatif, diberi kesempatan untuk mengembangkan diri dan berkarya bagi bangsa dan negara,” harap Sujito.

Dalam hal aksesibilitas, Sujito ingin kaum tuli bisa mendapatkan kemudahan dalam hal informasi lewat ketersediaan Juru Bahasa Isyarat (JBI), pendidikan yang inklusif, sarana dan prasarana publik yang bisa diakses bagi kaum tuli.

“Contohnya penyampaian sebuah pengumuman di terminal tidak hanya lewat suara tapi juga ada teks yg bisa dibaca, dan kebebasan dalam berekspresi di dunia seni dan kreativitas yang inklusif,” tuturnya.

Sujito, sang pendiri Gerkatin Sulut merupakan satu-satunya perwakilan aktivis tuli dari Sulut yang diutus untuk merumuskan kebijakan pemerintah.

“Saya terlibat dalam perumusan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, saya perwakilan dari Sulut. Mulai perumusan sampai draft finalnya,” kata Sujito.

Sujito juga memiliki kemampuan berenang, sejak lulus kuliah dia bekerja sebagai pemandu selam. Namun sejak menikah, dirinya tak lagi bekerja sebagai pemandu selama, dikarenakan akses untuk dari Tomohon ke tempat kerjanya sulit. Saat ini, Sujito memiliki kerja dirumah.

“Menjaga warung juga tak repot-repot, karena pembeli sudah tahu kalau saya dan istri tuna rungu, jadi mereka bicara pelan-pelan,” ujarnya.

Saat ini, dirinya sedang melatih beberapa orang, untuk bisa mengusai baca tulis untuk disabilitas tuna rungu, agar bisa lebih banyak membentuk komunitas tunarungu.(Mineshia)

, , , , ,

About Mineshia Lesawengen

Mineshia Lesawengen akrab disapa Neshia adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Sudah tertarik menjadi jurnalis sejak duduk di bangku SMA
View all posts by Mineshia Lesawengen →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *