Bagikan ke :
Petugas dari Sat Pol-PP Manado sedang menggunting masker bekas pakai warga.(Foto Febry Kodongan)

Oleh: Shada Amanda Putri Arianda
Mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang

Kira–kira kapan Pandemi COVID-19 berakhir? Pertanyaan ini menjadi yang paling sering ditanyakan oleh banyak orang di dunia, tak terkecuali orang-orang di Indonesia. Maklum, sudah hampir dua tahun atau sejak tahun 2020 lalu, pandemi menghantam seluruh sendi kehidupan masyarakat.

Tak hanya menjadi penyakit mematikan yang menyerang langsung tubuh manusia, COVID-19 juga melumpuhkan sektor-sektor lain terutama perekonomian, yang berakibat secara tidak langsung juga ikut membunuh kehidupan manusia. Bagaimana tidak, jika ekonomi hancur, imbasnya ya masyarakat yang kesusahan bekerja dan akhirnya perlahan kesulitan untuk hidup.

Apalagi saat ini, ketika belum ada obat yang benar-benar bisa menangkal COVID-19 ini, sudah muncul varian baru dari virus ini. Dikutip dari artikel kumparan berjudul ‘Waspada Varian Baru Corona Merajalela di Indonesia’, saat ini kasus varian corona baru yang masuk kategori diwaspadai, ternyata banyak ditemukan di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, ada 54 kasus, terdiri dari varian Inggris B117, varian Afrika Selatan B1351, dan varian India B1617.1 serta B1617.2.

“Total kasus Variant of Concern sampai saat ini adalah 54 kasus, 18 kasus B117, 4 kasus B1351, dan 32 kasus adalah B1617,” kata Kepala Puslitbang Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Vivi Setiawaty, seperti yang dikutip dalam artikel kumparan di atas.

Yang jadi pertanyaan disini, dengan varian baru yang terus berkembang dan kasus yang masih saja meningkat, fenomena ‘tak lagi peduli’ justru terpampang jelas di tengah masyarakat, maupun tindakan pemerintah sendiri, terlebih khusus pemerintah daerah.

Masih ingat tahun 2020 lalu, ketika virus corona baru mulai masuk Indonesia. Pemerintah terlihat begitu sangat gerak cepat. Penutupan aktivitas perkantoran, pembatasan aktivitas warga, penutupan warung makan, pemberlakuan jam malam, hingga pergeseran anggaran pemerintah daerah dengan alasan COVID-19 begitu gembar-gembor terlihat.

Setiap hari ada penyemprotan disinfektan, warga dilakukan karantina hingga pengadaan tong-tong air serta wastafel untuk cuci tangan di setiap sudut kota, dilaksanakan oleh pemerintah.

Namun, gerak cepat antisipasi itu, perlahan mulai melambat bahkan hampir tidak berbekas lagi. Sebagai contoh, tong-tong air bersama wastafel yang dibeli menggunakan anggaran daerah, kini tak lagi berfungsi. Boro-boro ada sabun di tempat-tempat itu, air di dalam tong pun sudah tidak pernah ada lagi. Bahkan, beberapa sudah hilang tak tahu ada di mana.

Namun, tak juga hanya menyalahkan pemerintah dalam kondisi seperti ini. Masyarakat pun harus disalahkan. Coba lihat sekarang, rata-rata masyarakat tak lagi menaati protokol kesehatan. Jika tahun lalu selalu menjaga jarak, sekarang sudah tak berlaku lagi.

Kesadaran menggunakan masker pun sudah sangat berkurang. Mungkin karena tidak ada lagi inspeksi penggunaan masker, maka tidak ada lagi yang ditakuti. Masyarakat mulai beraktivitas seperti biasa. Seperti biasa sebelum ada pandemi, di mana tidak menggunakan masker. Kalaupun ada masker, hanya dikantongi agar ketika ada inspeksi, bisa pura-pura digunakan.

Memang saat ini sudah ada kegiatan vaksinasi. Sudah dua jenis vaksin corona yang digunakan di Indonesia. Vaksin Sinovac dan AstraZeneca. Tapi, para penerima vaksin tidak kebal terhadap COVID-19. Seperti imunisasi, vaksin ini berfungsi agar ada auto imun di dalam tubuh bisa hadir dan mengenal virus yang menyebabkan COVID-19, sehingga ketika terpapar akan lebih mudah sembuh karena sudah ada imun yang terbentuk.

Hal inilah yang terjadi di beberapa kasus, di mana orang-orang yang telah menerima vaksin baik dosis pertama maupun yang sudah lengkap, tetap bisa terpapar oleh COVID-19. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sendiri sudah mewanti-wanti hal tersebut.

“Mohon maaf jangan mentang-mentang sudah divaksin kemudian lost. Jangan-jangan (jika) kita tidak hati-hati, belum disuntik kedua, sudah kena infeksi gitu kan. Atau belum terbentuk antibodi setelah suntikan kedua kita keburu terkena infeksi duluan,” ujar Ketua IDI, Daeng M Faqih seperti dikutip di kumparan.

Untuk itu, saya ingin mengajak kita semua tetap taat dengan protokol kesehatan. Menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan menghindari kerumunan masih jadi hal yang paling baik untuk menghindari COVID-19. Selain itu, jika kita patuh, penurunan jumlah kasus COVID-19 juga akan terjadi, yang akan berimbas ke kehidupan normal kembali.

Jika tidak terlalu diperlukan untuk ke luar rumah sebaiknya tidak usah. Berdiam diri di rumah juga salah satu upaya mencegahnya penularan virus. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Jika kita tak dengar-dengaran, maka yang akan terjadi, pertanyaan kapan Pandemi COVID-19 akan berakhir, tidak akan pernah terjawab. (*)