Bapelkum Bitung Targetkan WBK/WBBM di 2026, James Kaihatu: Bukan Sekadar Formalitas

BITUNG58 Dilihat

manadosiana.net, BITUNG – Balai Pelatihan Hukum (Bapelkum) Bitung tancap gas mengawali tahun 2026. Tak tanggung-tanggung, komitmen pembangunan Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) resmi dicanangkan, Kamis (22/1/2026).

​Langkah strategis ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kinerja Tahun 2026 yang dipimpin langsung oleh Kepala Bapelkum Bitung, James Alexander Kaihatu. Agenda ini diikuti oleh seluruh jajaran, mulai dari Pejabat Manajerial, Non-Manajerial, PPPK Paruh Waktu, hingga Tenaga Magang.

​Dalam arahannya, James Alexander Kaihatu mewanti-wanti bawahannya agar tidak main-main. Ia menegaskan bahwa penandatanganan ini bukan sekadar urusan administratif di atas kertas, melainkan “kontrak mati” untuk mencapai target organisasi.

​”Penandatanganan perjanjian kinerja dan komitmen bersama ini bukan sekadar formalitas administratif. Ini adalah kontrak kerja nyata untuk memastikan pencapaian target organisasi secara terukur sepanjang tahun 2026,” tegas James dengan nada bicara lugas.

​James juga menyoroti perubahan nomenklatur lembaga yang kini resmi menjadi Balai Pelatihan Hukum Bitung. Perubahan ini membawa konsekuensi besar, yakni perluasan wilayah kerja yang semakin masif.

​”Balai Pelatihan Hukum Bitung tidak lagi hanya melayani Sulawesi Utara. Saat ini jangkauan kita mencakup sepuluh provinsi, dan punya potensi besar berkembang hingga empat belas provinsi,” ungkapnya.

​Guna mengejar predikat WBK/WBBM, James menekankan pentingnya perubahan pola pikir (mindset) dan budaya kerja di lingkungan Bapelkum. Menurutnya, penghargaan hanyalah bonus, yang utama adalah integritas pelayanan.

​”Predikat WBK bukan cuma soal pajangan penghargaan. Ini soal bagaimana kita membangun budaya kerja yang menjunjung tinggi kejujuran, transparansi, dan pelayanan prima kepada masyarakat,” pungkas James.

​Acara ditutup dengan penandatanganan Pakta Integritas secara kolektif, sebagai simbol bahwa seluruh punggawa Bapelkum Bitung siap mengharamkan praktik lancung dan fokus pada pelayanan publik yang bersih.

Komentar