Ketika Syukur Menyapa Merdeka: Memaknai Hakikat Cinta dan Kedamaian di Tanah Manado

HEADLINE26 Dilihat

manadosiana.net, ​Manado – Ada kehangatan yang tak biasa menyusup di antara wangi rempah kuah tinutuan dan kepulan asap hidangan khas yang disiapkan di dapur-dapur rumah warga Manado. Agustus 2026 ini, Kota Manado tak sekadar merayakan tradisi tahunan Thanksgiving atau Pengucapan Syukur. Di balik bendera merah putih yang berkibar di setiap sudut lorong, warga merayakan sesuatu yang jauh lebih berharga: rasa saling memiliki yang tak pernah padam.

​Tahun ini, Puncak Perayaan Pengucapan Syukur yang jatuh pada Minggu, 23 Agustus 2026, beriringan langsung dengan gema kemeriahan HUT ke-81 Republik Indonesia. Dua momen besar ini menjelma menjadi panggung kebaikan, tempat di mana pintu-pintu rumah dibuka lebar, bukan hanya untuk kerabat dekat, tetapi bagi siapa saja yang melangkah masuk tanpa memandang latar belakang dan iman.

​Di tengah suasana yang penuh haru itu, tokoh masyarakat sekaligus praktisi hukum, Hanafi Saleh, SH, menyampaikan pesan mendalam yang menyentuh relung hati.

​”Pengucapan Syukur bukan sekadar tentang meja yang terhidang penuh makanan,” tutur Hanafi Saleh dengan nada suara yang lembut namun penuh penekanan. “Ini tentang air mata haru karena kita masih diberi kesempatan untuk saling memeluk, saling berbagi, dan melihat tetangga kita tersenyum. Ini adalah tentang mengetuk pintu rumah saudara kita yang berbeda keyakinan, lalu duduk bersama di satu meja tanpa ada canggung sedikit pun.”

​Bagi Hanafi, perjumpaan antara tradisi syukur lokal dan hari lahir bangsa adalah pengingat betapa indahnya keberagaman yang dijahit oleh kasih sayang. Di saat dunia luar kerap terpecah, Manado terus berdiri teguh sebagai rumah yang hangat bagi siapa saja.

​Ia pun menitipkan pesan mendalam agar masyarakat senantiasa menjaga kedamaian dan kehangatan kota ini dengan penuh rasa tanggung jawab.

​”Mari kita jaga rumah kita ini. Jaga keamanan, jaga perasaan saudara-saudara kita, dan rawatlah toleransi ini seperti kita merawat keluarga kita sendiri. Jangan biarkan kedamaian yang dibeli dengan ketulusan para leluhur tergores oleh ketidakpedulian,” tambahnya, mata yang berbinar menahan haru.

​Sebagai penutup, Hanafi Saleh melantunkan kalimat penyejuk hati yang membelai jiwa setiap warga yang mendengarnya.

​”Di atas semua perbedaan yang kita miliki, selalulah ingat bahwa hati yang damai adalah rumah terbaik bagi ketenangan. Mari kita saling memaafkan, melapangkan dada dari sisa luka masa lalu, dan memeluk sesama dengan kasih yang paling tulus. Karena ketika kita bersatu dalam rasa syukur dan cinta, tidak ada badai yang sanggup meruntuhkan kehangatan kota tercinta ini,” ucapnya dengan lembut, membawa kesejukan mendalam di tengah riuk kemeriahan pesta rakyat.

​Ketika Puncak Perayaan tiba pada 23 Agustus nanti, Manado tak hanya sekadar ramai. Di balik gelak tawa dan jabat tangan yang hangat, ada doa-doa sunyi yang terucap agar persaudaraan ini abadi. Sebab di tanah ini, kalimat singkat itu bukan cuma slogan, melainkan janji jiwa: Torang samua basudara.

Komentar