manadosiana.net, MINAHASA UTARA – Bagi masyarakat Desa Wori, Kabupaten Minahasa Utara, nama Hanafi Saleh, SH bukan sekadar nama seorang pengacara senior yang kerap berseliweran di ruang sidang pengadilan tinggi. Bagi mereka, pria yang akrab disapa Bang Hanafi ini adalah “payung teduh” dan dinding kokoh tempat mereka berlindung ketika badai persoalan hukum datang menerpa.
Meski kini dikenal luas sebagai pembela garda terdepan masyarakat Wori, Hanafi Saleh sejatinya merupakan putra asli Tobelo, Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara (Malut). Hampir mendekati setengah abad kurang lebih 48 tahun, Dia telah meninggalkan tanah kelahirannya di Maluku Utara untuk merantau dan berkarya. Namun, di mana pun ia berada, Hanafi selalu memegang teguh prinsip hidup leluhur: “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”
Filosofi mendalam inilah yang membuatnya begitu menyatu, mencintai, dan merasa memiliki tanggung jawab moral penuh terhadap tanah tempat ia bernaung. Ikatan emosional dan intelektualnya di Sulawesi Utara pun kian matang karena Hanafi merupakan jebolan atau alumni dari Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, tempat yang membentuk ketajaman berpikirnya di dunia hukum.
Komitmen kemanusiaan Hanafi bukan sekadar isapan jempol, melainkan torehan tinta sejarah yang sangat sulit dilupakan oleh masyarakat Wori. Salah satu fragmen perjuangan paling monumental dalam hidupnya adalah ketika Hanafi, pasang badan membela hak atas tanah warga lokal.
Secara bersama-sama dengan beberapa tokoh masyarakat Desa Wori, Hanafi memimpin perjuangan panjang dan melelahkan untuk membebaskan lahan Hak Guna Usaha (HGU) yang selama bertahun-tahun dikuasai secara monopoli oleh PT. Nyiur Wicaksana. Menghadapi korporasi besar tentu bukan perkara mudah, namun berkat keahlian hukum, keteguhan hati, dan strategi pembelaan yang matang, perjuangan tersebut membuahkan hasil yang sangat luar biasa.
Lahan HGU tersebut berhasil dibebaskan dari cengkeraman monopoli. Kini, tanah tersebut telah dikuasai serta dimiliki secara sah dan berkekuatan hukum tetap oleh masyarakat. Wilayah yang menjadi simbol kemenangan rakyat atas hak tanah itu kini tumbuh subur dan dikenal luas oleh masyarakat dengan nama perkampungan ILO-ILO Desa Wori.
Tidak berhenti di situ, Hanafi Saleh terus mengawal berbagai isu krusial di desanya. Ketika riak-riak dugaan penyelewengan dana desa hingga anggaran krusial seperti dana stunting mencuat dan mengancam hak-hak masyarakat Wori, ia kembali membuka pintu rumah dan ruang konsultasinya lebar-lebar secara sukarela demi memberikan legal advice bagi warga yang butuh kepastian.
Bagi pengacara senior ini, menjaga integritas profesional diukur dari seberapa besar keberpihakannya pada kebenaran dan kepentingan publik.
“Saya merasa secara pribadi, ini adalah kewajiban hukum dan hak hukum saya untuk membantu serta membela masyarakat demi kepentingan mereka sendiri dan demi tegaknya hukum yang adil,” ungkap Hanafi dalam satu kesempatan di hadapan media.
Di luar jubah toganya, Hanafi Saleh dikenal luas sebagai sosok yang memiliki jiwa sosial dan toleransi yang sangat tinggi. Mengamalkan pepatah “di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung”, Hanafi membuktikan baktinya pada tanah Minahasa Utara melalui aksi nyata.
Tak heran jika namanya harum sebagai salah satu donatur yang ringan tangan dalam pembangunan rumah-rumah ibadah serta pembenahan infrastruktur fasilitas umum di Desa Wori. Baginya, ketenteraman sebuah wilayah tidak hanya dibangun lewat kepastian hukum, tetapi juga melalui kerukunan umat beragama dan kelayakan infrastruktur yang menunjang hajat hidup orang banyak.
Kiprah Hanafi Saleh di kancah hukum Sulawesi Utara memang tak perlu diragukan lagi. Sebagai advokat senior yang matang, ketajaman analisis hukumnya kerap membuat ruang sidang bergetar. Salah satu pencapaian paling fenomenal yang menjadi buah bibir di kalangan praktisi hukum Sulut terjadi pada tahun 2026 ini.
Dalam sebuah pembuktian reputasi yang langka, Hanafi Saleh berhasil mengukir prestasi emas dengan memenangkan tiga perkara sekaligus dalam satu hari. Kemenangan beruntun dalam sehari ini, termasuk di antaranya kemenangan gemilang dalam sidang praperadilan yang menguji netralitas dan profesionalitas penegakan hukum di Sulawesi Utara menjadi bukti sahih atas kapasitas, jam terbang, dan kecerdasannya sebagai alumni Fakultas Hukum Unsrat dalam meramu fakta-fakta persidangan.
Rentetan hasil manis di meja hijau tersebut kian mengukuhkan posisinya di papan atas jajaran pengacara elit Bumi Nyiur Melambai.
Kisah Hanafi Saleh, SH memberikan kita sebuah refleksi mendalam tentang esensi seorang penegak hukum sekaligus seorang perantau sejati. Meski terpisah jarak puluhan tahun dengan tanah Tobelo tempatnya lahir, dedikasinya tidak pernah luntur.
Melalui kombinasi antara ketegasan di ruang sidang, keluhuran budi di tengah masyarakat, serta komitmen tanpa pamrih bagi tanah tempatnya berpijak saat ini, Hanafi Saleh telah melampaui statusnya dari sekadar praktisi hukum menjadi pahlawan kemanusiaan bagi warga Wori.






