Menjemput Cahaya di Gerbang Ramadhan 1447 H

Sebuah Perjalanan Menuju Transformasi Diri

 

Oleh : Muhammad Farhan Al Mubarak, S.Pd

TINGGAL menghitung hari lagi menuju bulan penuh keberkahan, ​Waktu laksana arus sungai yang tak pernah berhenti mengalir, dan tanpa terasa, kita kini telah sampai di tepian bulan yang paling dinantikan oleh miliaran umat manusia di seluruh dunia. Ramadhan 1447 Hijriah bukan sekadar pergantian kalender atau pengulangan rutinitas tahunan. Ia adalah sebuah undangan agung dari Sang Khalik bagi hamba-Nya untuk sejenak berhenti dari hiruk-pikuk duniawi, menarik napas dalam-dalam, dan kembali menemukan hakikat diri.

​Madrasah Ruhiyah di Tengah Modernitas
​Di tahun 1447 H ini, kita hidup di era di mana gangguan (distraksi) hadir setiap detik melalui genggaman tangan. Arus informasi yang begitu cepat sering kali membuat jiwa kita merasa lelah dan kehilangan orientasi. Di sinilah Ramadhan hadir sebagai “Madrasah Ruhiyah” atau sekolah spiritual.

​Puasa bukan hanya tentang memindahkan jam makan, tetapi tentang melatih kontrol diri (self-control). Saat kita mampu menahan diri dari hal-hal yang halal (makan dan minum) demi perintah Allah, kita sebenarnya sedang membangun otot-otot spiritual untuk mampu menahan diri dari hal-hal yang haram di luar bulan Ramadhan. Inilah esensi dari takwa yang menjadi tujuan utama diperintahkannya puasa.
​Melampaui Lapar dan Dahaga: Empati Sosial
​Ramadhan 1447 H juga merupakan momentum untuk mengasah kepekaan sosial.

Rasa lapar yang kita rasakan secara sukarela selama belasan jam adalah pengingat nyata tentang penderitaan saudara-saudara kita yang merasakan lapar secara terpaksa karena kemiskinan atau konflik.

​Melalui ibadah puasa, sekat-sekat sosial luruh. Si kaya dan si miskin merasakan haus yang sama. Kesadaran inilah yang seharusnya mendorong kita untuk lebih dermawan. Ramadhan adalah bulan di mana tangan di atas jauh lebih mulia, di mana setiap keping harta yang kita bagikan menjadi pembersih bagi jiwa dan penyejuk bagi hati orang lain.

​Membersihkan Hati, Menata Kembali Prioritas
​Memasuki bulan suci ini, hal pertama yang harus kita lakukan adalah melakukan “tazkiyatun nafs” atau penyucian jiwa. Mustahil air yang jernih bisa masuk ke dalam wadah yang kotor. Oleh karena itu, saling memaafkan dan melepaskan beban dendam adalah kunci utama sebelum memulai perjalanan 30 hari ini.

​Mari kita tata kembali prioritas hidup kita. Jika sebelas bulan sebelumnya kita lebih banyak mengejar pencapaian duniawi, jadikan Ramadhan 1447 H ini sebagai waktu untuk:
​Memperbaiki Kualitas Komunikasi dengan Allah: Melalui shalat yang lebih khusyuk dan tilawah Al-Qur’an yang disertai pemahaman makna.
​Menjaga Lisan dan Jari: Di era media sosial, puasa lisan juga berarti puasa dari menyebarkan hoaks, ghibah digital, dan komentar yang menyakiti perasaan orang lain.

​Konsistensi (Istiqamah): Fokus pada amalan kecil yang dilakukan terus-menerus daripada amalan besar yang hanya dilakukan di awal bulan.
​Menutup Lembaran Lama, Membuka Lembaran Baru ​Saat fajar pertama Ramadhan 1447 H menyingsing, biarlah ia menjadi saksi atas niat tulus kita untuk berubah. Jangan biarkan Ramadhan kali ini berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas pada karakter kita. Kita tidak pernah tahu apakah kita akan bertemu kembali dengan Ramadhan berikutnya.

​Mari kita sambut bulan penuh rahmat, maghfirah, dan pembebasan dari api neraka ini dengan sukacita yang tulus. Selamat datang Ramadhan 1447 H. Semoga Allah SWT membimbing setiap langkah kita, menguatkan azam kita, dan menerima setiap ruku serta sujud kita. (*)