Jejak Kasih Jhon Titaley, Guru yang Memberi Motivasi dan Membuka Jalan Takdir bagi Bahlil Lahadalia

HEADLINE26 Dilihat

manadosiana.net, MANADO – Sejarah kesuksesan seorang tokoh besar seringkali ditulis oleh tangan-tangan dingin yang bekerja dalam senyap. Bagi Menteri Bahlil Lahadalia, salah satu tangan itu adalah milik Almarhum Jhon Titaley. Beliau bukan sekadar sosok pembimbing, melainkan seorang pendidik sejati yang tak rela melihat mutiara bangsa terkubur oleh kemiskinan.

​Jhon Titaley, yang semasa hidupnya mengabdi sebagai guru di SMP Negeri 1 Fak-Fak dan pernah menjabat sebagai Kepala Sekolah SMP Pancasila Fak-Fak, kini telah berpulang. Namun, warisan terbesarnya bukan hanya ilmu yang diajarkan di dalam kelas, melainkan keberaniannya dalam mengawal masa depan seorang pemuda yang kini menjadi tokoh nasional.

Hempri Titaley, putra almarhum ​Jhon Titaley.(Foto: manadosiana.net).

​Sebagai seorang guru dan pimpinan sekolah, Almarhum Jhon Titaley memiliki ketajaman rasa dalam melihat potensi anak muda. Hempri Titaley, putra almarhum, menceritakan bahwa ayahnya sangat prihatin melihat kondisi ekonomi keluarga Bahlil kala itu. Di mata sang guru, Bahlil adalah pemuda pekerja keras yang memiliki tekad baja meski dihimpit kesulitan yang luar biasa.

​”Ayah saya adalah seorang guru. Naluri pendidiknya tidak bisa membiarkan Bahlil berhenti hanya sampai SMA (Yapis Fak-Fak). Beliau yang memotivasi dan berinisiatif bahwa Bahlil harus keluar dari Fak-Fak untuk melanjutkan kuliah ke Jayapura,” kata Hempri kepada manadosiana.net, Jumat (10/4/2026).

​Siasat di Balik Tumpukan Sayur
​Perjuangan itu mencapai puncaknya saat Bahlil menyelesaikan pendidikan menengahnya.

Sebagai seorang pendidik yang hidup sederhana, Jhon Titaley memberikan semua yang ia mampu: motivasi yang kuat, bekal uang jajan seadanya, dan jalan keluar yang nekat.
​Keterbatasan biaya membuat tiket kapal menjadi barang mewah yang tak terbeli saat itu. Di sinilah sang Guru melakukan pengorbanan yang tak lazim demi masa depan anak didiknya.

​”Karena modal sangat terbatas, Ayah menyiasati agar Bahlil bisa tetap berangkat. Beliau membawa Bahlil naik ke kapal perintis, lalu menyembunyikannya di antara tumpukan sayur-mayur agar tidak terjaring pemeriksaan tiket petugas,” ungkap Hempri.

​Di bawah dek kapal, berselimut bau sayuran dan pengapnya ruang kargo, Bahlil berlayar membawa doa tulus dan harapan besar yang dititipkan sang Guru dari dermaga Fak-Fak.

​Kini, “murid” yang dulu harus bersembunyi di tumpukan sayur itu telah menjelma menjadi seorang menteri. Meskipun sang Guru kini telah tiada, kisah ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan Bahlil adalah buah dari kasih sayang seorang pendidik yang melampaui tugas di sekolah.

​Sebagai penutup, Hempri menitipkan pesan mendalam yang merupakan harapan tulus dari keluarga almarhum untuk Bahlil Lahadalia.

​”Pesan kami, tetaplah menjadi berkat bagi banyak orang. Dan jangan pernah lupa, tetaplah perhatikan Kota Fak-Fak, tanah yang melahirkanmu, yang selalu menjunjung tinggi simbol Satu Tungku Tiga Batu. Laksanakan tugas negara dengan sebaik-baiknya,” tutup Hempri.