Air Mata Pendidikan yang Tercecer

HEADLINE29 Dilihat

MINUT – Di tengah-tengah keindahan alam Pulau Talise, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara, terdapat potret pendidikan yang memprihatinkan. Sarlis Nangkoda, seorang kakek berusia 74 tahun, menghibahkan tanah seluas satu hektare untuk dibangun sekolah di Desa Wawunian. Pemberian lahan ini dilakukan secara sukarela dan tanpa paksaan, demi masa depan anak-anak dan cucu-cucunya.

Mata kakek Sarlis berkaca-kaca ketika mengingat masa lalunya. Ia hanya mampu menempuh pendidikan di sekolah dasar kelas empat, dan setiap hari harus berjalan kaki melewati jalan yang penuh lumpur dan licin. Ia jatuh, bangun lagi, jatuh dan kembali bangun, sampai akhirnya tiba di sekolah dengan pakaian yang penuh lumpur.

Namun, ia merasa bangga melihat cucu-cucunya dapat bersekolah di fasilitas apa adanya. Ia berharap pemerintah dapat membantu menambahkan tenaga pendidikan dan memperbaiki fasilitas sekolah agar murid-murid dapat menikmati pendidikan yang layak.

“Semoga, pemerintah dapat membaca apa yang saya sampaikan. Ini bukan untuk saya, tapi untuk murid-murid penerus bangsa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di pulau Talise,” katanya dengan suara yang bergetar.

Air mata kakek Sarlis jatuh ketika ia memikirkan masa depan anak-anak di Pulau Talise. Ia berharap mereka dapat menikmati pendidikan yang layak, tidak seperti dirinya yang harus berjuang keras untuk menempuh pendidikan.

Mari kita berikan perhatian dan bantuan kepada mereka, agar anak-anak di Pulau Talise dapat menikmati pendidikan yang layak dan menjadi generasi penerus bangsa yang cerdas dan berkarakter.

Komentar