manadosiana.net, MANADO — Perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 di lingkungan kementerian bidang pendidikan dan kebudayaan membawa pesan mendalam soal keharmonisan. Fokus utamanya bukan sekadar seremonial, melainkan penguatan peran keluarga sebagai benteng utama karakter dan toleransi bangsa.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menggarisbawahi bahwa harmoni bernegara bermula dari ruang tamu rumah. Menurutnya, keluarga adalah fondasi paling dasar dalam menciptakan tatanan masyarakat yang rukun.
“Keluarga itu basisnya. Dari sana kita membangun kehidupan yang damai serta persatuan dalam berbangsa,” tutur Mu’ti saat ditemui di Kompleks Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Rabu (14/1/2025).

Dalam upaya mencetak generasi unggul, Mu’ti menyebut sekolah tidak bisa berjalan sendirian. Ia memperkenalkan konsep kolaborasi empat ekosistem yang saling mengunci yakni, Lingkungan Sekolah yang suportif, Keluarga sebagai pendidik pertama, Masyarakat dan Tempat Ibadah sebagai ruang sosial dan Media Massa yang memberikan pengaruh informasi.
Abdul juga berpesan agar anak-anak tidak “dikurung” dalam eksklusivitas. Sebaliknya, mereka harus didorong untuk berdialog dengan sesama yang berbeda keyakinan guna mengikis sekat perbedaan.
Di sisi lain, Menteri Kebudayaan Fadli Zon melihat keberagaman Indonesia sebagai aset mahal atau mega diversity. Ia menolak anggapan bahwa perbedaan suku atau agama adalah pemicu perpecahan.

“Kekayaan ekspresi budaya kita adalah kekuatan pemersatu. Ini modal utama kita kalau mau mencapai target Indonesia Emas 2045,” tegas Fadli. Ia meyakini jika unit terkecil masyarakat—yakni keluarga—mampu menjaga nilai persatuan, maka ketahanan nasional akan semakin kokoh.
Sisi humanis juga terlihat dalam agenda ini. Para menteri tidak hanya berkumpul untuk merayakan, tetapi juga menyalurkan bantuan bagi warga yang sedang tertimpa musibah di Sumatra. Bantuan ini disalurkan secara simbolis melalui Satuan Tugas (Satgas) lintas kementerian.
Febry H.J. Dien selaku Ketua Panitia mengungkapkan rasa syukurnya atas sinergi antara Kemendikdasmen, Kemendikti Saintek, dan Kemenbud. Baginya, kehadiran para tokoh lintas agama dan pejabat eselon menjadi bukti nyata bahwa semangat kerukunan bukan sekadar jargon di atas kertas.

Acara ditutup dengan syahdu lewat refleksi dari Pastor Yustinus Ardianto dan pesan damai Pendeta Henriette T. Hutabarat Lebang, diiringi harmoni suara dari berbagai kelompok paduan suara mahasiswa dan pelajar. Kegiatan di hadiri juga dihadiri oleh Bupati Minahasa Selatan, Walikota Tomohon dan Kadis Dikda Sulut.







Komentar