Remboken, ManadoSiana – Isu hilangnya tabung gas elpiji 3 kilogram atau yang akrab disebut tabung ijo di wilayah Kecamatan Remboken sempat viral dan menjadi perbincangan hangat masyarakat. Keluhan datang dari warga Desa Sendangan, Rabu (25/02/2026), yang mengaku kesulitan mendapatkan gas bersubsidi tersebut di pangkalan.
Salah satu warga, Yanes Kaawoan, secara terbuka menyampaikan keluhan terkait kelangkaan gas 3 kilo di wilayahnya. Ia berharap pemerintah dapat memastikan ketersediaan stok di setiap pangkalan desa agar masyarakat kecil tidak terdampak.
Keluhan serupa juga disampaikan warga lainnya, Melky K, yang membandingkan kondisi di luar Kabupaten Minahasa.
Di pangkalan luar Kabupaten Minahasa selalu ada. Apakah hanya di Kecamatan Remboken yang langkah?tandas Melky dengan nada kecewa.
Isu ini pun cepat menyebar melalui media sosial dan grup percakapan warga, memicu kekhawatiran akan terjadinya kelangkaan berkepanjangan.
Camat Eightmi Moniung Gerak Cepat Turun Lapangan,Menanggapi informasi yang beredar, Camat Eightmi J. Moniung, SH, langsung bergerak cepat melakukan verifikasi lapangan. Ia bersama jajaran pemerintah kecamatan mengunjungi sejumlah pangkalan elpiji di wilayah Remboken untuk memastikan kondisi riil di lapangan.
Kami tidak tinggal diam. Begitu ada keluhan masyarakat, kami langsung turun ke lapangan untuk memastikan bagaimana sistem penyaluran dari pangkalan ke masyarakat,ujar Moniung.
Langkah ini dilakukan untuk menghindari simpang siur informasi sekaligus memastikan tidak ada praktik penahanan atau penyimpangan distribusi gas bersubsidi.
Hasil Verifikasi: Bukan Kelangkaan Total, Tapi Jeda Distribusi,Dari hasil pengecekan di beberapa pangkalan, pemerintah kecamatan menemukan bahwa sebagian besar desa di Remboken masih dalam kondisi aman dan distribusi berjalan normal.
Berdasarkan keterangan para hukum tua (kepala desa), rata-rata distribusi gas di desa mereka berjalan sesuai jadwal.
Namun, terdapat dua pangkalan yang sempat mengalami kekosongan stok karena gas yang tersedia telah habis terjual sebelum jadwal distribusi berikutnya.
Memang kemarin ada dua pangkalan yang stoknya sudah habis. Namun hari ini sudah terjadwal masuk pasokan baru. Jadi situasinya bukan kelangkaan total, melainkan jeda distribusi,jelas Moniung.
Ia menambahkan, jeda pasokan tersebut berlangsung sekitar dua hingga tiga hari, yang kemudian memicu kekhawatiran di tengah masyarakat.
Camat Moniung menegaskan bahwa setiap pangkalan memiliki jadwal distribusi mingguan yang telah ditetapkan oleh agen. Dalam satu bulan, kuota distribusi berjalan rutin sesuai alokasi yang diberikan.
Ia juga mengingatkan bahwa sesuai ketentuan, pangkalan wajib memprioritaskan masyarakat di desa setempat sebelum melayani pembeli dari luar wilayah.
Aturan jelas menyatakan pangkalan harus melayani masyarakat desa itu terlebih dahulu. Jika komunikasi berjalan baik dan jadwal dibagikan secara terbuka, masyarakat pasti tahu kapan gas masuk, tegasnya.
Untuk menghindari kesalahpahaman, pihak kecamatan akan memperkuat koordinasi dengan pangkalan dan pemerintah desa agar jadwal distribusi diumumkan secara transparan melalui papan informasi desa maupun grup komunikasi warga.
Pengawasan Diperketat, Warga Diminta Tidak Panik
Sebagai langkah antisipatif, Pemerintah Kecamatan Remboken memastikan akan melakukan pemantauan rutin terhadap distribusi elpiji 3 kg di seluruh desa. Koordinasi dengan agen dan pangkalan akan terus ditingkatkan guna mencegah keterlambatan maupun potensi penumpukan stok.
Camat Eightmi Moniung juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpancing isu yang belum terverifikasi.
Kami pastikan distribusi tetap berjalan. Jika ada kendala, segera laporkan ke pemerintah desa atau kecamatan supaya bisa langsung kami tindak lanjuti, imbaunya.
Dengan langkah cepat dan komunikasi yang intensif antara pemerintah kecamatan, desa, serta pangkalan, diharapkan kebutuhan gas elpiji 3 kilogram bagi masyarakat Kecamatan Remboken tetap terpenuhi secara merata, tepat sasaran, dan tidak lagi menimbulkan keresahan di tengah warga.(**Andreano)
