Reporter: Febry Kodongan
manadosiana.net, MINAHASA, – Jejak rekam Jufry Mantak, S.Pd., di dunia jurnalistik Sulawesi Utara bukanlah sekadar catatan pinggir. Calon Hukum Tua Desa Wineru ini merupakan figur sentral di pos liputan Hukum dan Kriminal (Hukrim) Polda Sulut dengan konsistensi yang jarang dimiliki orang lain. Ia tercatat sebagai jurnalis yang mengawal kebijakan kepolisian lintas generasi, mulai dari era Irjen. Pol. (Purn.) Drs. Remigius Sigid Tri Hardjanto, M.Si. hingga masa kepemimpinan putra daerah terbaik, Kapolda Sulut Irjen. Pol. Roycke Harry Langie, S.I.K., M.H.
Kedekatannya dengan para jenderal dan petinggi korps Bhayangkara dari masa ke masa ini telah membentuk karakter kepemimpinan Jufry yang disiplin, peka terhadap keadilan, dan memiliki prinsip tanpa kompromi terhadap segala bentuk pelanggaran hukum—terutama korupsi.
Bagi Jufry, pengalaman berada di “ring utama” Polda Sulut selama bertahun-tahun adalah sekolah kepemimpinan yang sesungguhnya. Dia menegaskan bahwa komitmennya untuk Desa Wineru sejalan dengan semangat Polda Sulut yang terus gencar dalam mencegah dan membasmi korupsi hingga ke tingkat akar rumput.
”Selama meliput di Polda Sulut, saya melihat betapa tegasnya kepolisian dalam memberantas korupsi dana publik. Sebagai calon Hukum Tua, saya membawa semangat yang sama. Memanusiakan warga (Sitou Timou Tumou Tou) berarti tidak membiarkan satu rupiah pun hak rakyat diselewengkan. Saya akan menerapkan tata kelola yang transparan dan akuntabel, persis seperti standar integritas yang selama ini saya lihat dijalankan di Mapolda Sulut,” tegas Jufry.
Jufry memandang bahwa korupsi seringkali lahir dari sistem yang tertutup. Oleh karena itu, misi Jujur yang diusungnya bukan sekadar slogan. Ia berencana membuka akses informasi anggaran secara luas kepada masyarakat Wineru.
Dalam kacamata jurnalis Hukrim-nya, pencegahan korupsi jauh lebih efektif daripada penindakan. Ia ingin memastikan setiap proyek, termasuk pembangunan infrastruktur jalan perkebunan, dijalankan tanpa mark-up atau pemotongan anggaran sedikitpun.
Sebagai seorang Sarjana Pendidikan (S.Pd), Jufry menerjemahkan filosofi peninggalan Sam Ratulangi tersebut ke dalam tiga tahapan transformasi desa yang bebas korupsi:
Memastikan pelayanan publik di Wineru ramah, setara, dan bersih dari pungli.
Timou (Hidup/Berkembang): Membangun nadi ekonomi melalui infrastruktur jalan perkebunan dengan kualitas yang jujur dan sesuai spesifikasi serta Menciptakan masyarakat desa yang cerdas dan berani mengawasi jalannya pemerintahan desa secara terbuka tanpa rasa takut.
Gelar S.Pd yang disandangnya menjadi penyeimbang yang sempurna bagi latar belakang jurnalis kriminalnya yang keras. Di satu sisi, ia memiliki ketegasan dalam melawan korupsi, namun di sisi lain, ia memiliki kelembutan seorang pendidik yang ingin mengayomi warga.
Kedekatan strategisnya dengan institusi kepolisian, terutama semangat penegakan hukum yang diusung oleh Irjen. Pol. Roycke Langie, menginspirasi Jufry untuk memperkuat pengawasan internal desa. Lewat misi Responsif, ia bertekad menciptakan tata kelola yang tidak hanya aman secara fisik lewat Siskamling, tapi juga aman secara administratif dari praktik-praktik kotor.
Dengan jargon “Muda Bekerja”, Jufry Mantak memposisikan dirinya sebagai pembawa perubahan yang memiliki bobot pengalaman tingkat provinsi. Ia menawarkan masa depan Desa Wineru yang lebih adil, bersih total dari praktik korupsi, dan menjunjung tinggi martabat kemanusiaan bagi generasi mendatang.
